Terharu banget ngga sih kalau email kita tuh dibales dalam waktu kurang dari 20 menit? Sebenarnya bukan karena itu juga sih, I will spread this happiness for you all. :’)
Minggu ini setidaknya gw harus mempersiapkan bab 3 dari proposal (calon skripsi) untuk dikonsultasikan ke Dosen Metodologi Penelitian sebelum deadline saat UAS nanti, that means deadline is about two weeks or more later. Sedikit hambatan, kuisioner yang mestinya udah siap di tangan malah sama sekali belum gw dapatkan. I’ve been searching for many days but it didn’t work. Jadi ceritanya gw mesti nyari kuisioner dari penelitian sebelumnya yang judulnya sama kayak proposal gw atau paling tidak mirip dan mengandung variabel yang sama. As I know, we are prohibited to make a new questionnaire without any pilot test before using it in our research. After googling, I still didn’t get it. Kebetulan beberapa waktu lalu, gw nemu skripsi yang judulnya hampir sama kayak proposal gw, dan kebetulan lagi gw kenal sama sang peneliti. Nice!
Tadi pagi gw minta tolong seseorang buat menghubungi sang peneliti via BBM, karena sesungguhnya orang ini (selanjutnya, sebut saja Budi) bisa dibilang sangat mumpuni buat dimintai tolong masalah beginian, dan emang mereka saling kenal. Satu jam. Dua jam. Tiga jam. Berjam-jam. Ngga ada kabar. Kata Budi, BBM-nya belum di read. Oke, sampai akhirnya sebelum Magrib gw tanya lagi mengenai respon BBM, dan Budi bilang kalau BBM-nya si peneliti ngga aktif. Yaudah lah, ya.
Sekitar pukul 19.40, gw masuk kamar untuk solat. Selesai solat, tiba-tiba kepikiran buat merangkai kata-kata di bab 3 walaupun kayaknya cuaca lagi ngga oke. Tibalah pukul 20.17 dimana pada akhirnya gw memberanikan diri untuk mengirim email ke peneliti yang dari tadi disebut-sebut. Intinya, gw nanya masalah pencarian kuisioner. Rada hopeless sih waktu ngirim email, karena well, BBM aja katanya ngga aktif, eh ini malah ngirim email yang kemungkinan dibacanya tuh 1 banding 1753. Belum lagi beliau sekarang udah jadi auditor yang mungkin bakalan sibuk, dimana gw ngirim email udah cukup malem. Bisa aja kan, dia udah tidur karena besok hari senin dan harus berangkat pagi ke kantor. Tapi nasib berkata lain, sekitar pukul 20.46 email balasan pun datang. Rasanya tuh kayak meluncur bareng paus akrobatis menuju rasi bintang paliiiiiing manis..
Siapa sangka bakal dibales dalam waktu singkat? Pokoknya, sejuta terima kasih saya ucapkan kepada orang yang telah membalas email saya malam ini. Semoga kebaikan selalu menyertaimu. Salam manis selalu.
Today is May 3rd, 2012. So, HAPPY BIRTHDAY TO THE COOLEST AND THE GREATEST MAN EVER, MY SUPER-DAD! Happy birthday, Bapak. Anything for ya! Everybody loves ya! :D
Another adorable smile. Oh help, it is really gorgeous. I mean, his smile. And he has a baby-face. Completely, a good combination.
Cosmopolitan 2010 shoot, in London.
After reading my previous post, my friend told me, “Before un-following someone’s twitter account, you have to get any permission for politeness.”
Mungkin bisa dibilang untuk menjaga hubungan baik antara satu dengan yang lainnya. So, anybody, would you like to permit me to un-follow your twitter account? I know it’s late, because I already un-followed two of my friends. But, it’s never too late, Air Supply said. Terus kenapa mesti minta izin di tumblr? Kenapa bukan langsung di twitter? Tidak lain dan tidak bukan, karena gw membahas masalah ketidaknyamanan tadi disini. Lagipula, kalau izin di twitter nanti malah ditanggapi berlebihan karena persepsi orang berbeda-beda. Sekali lagi, gw agak terganggu dengan isi twitternya, bukan pribadi dari pemilik akun tersebut. Kan, I love you, you love me, we are happy family..
Satu hal yang udah cukup lama tertunda buat diungkapkan adalah mengenai twitter. This is it! Belakangan, gw udah mulai sedikit terganggu dengan hal-hal yang berkenaan dengan twitter. Mungkin ini lebih kepada pribadi penggunanya yang semakin menjadi-jadi. Everything happens on twitter. Segala macam perasaan campur aduk tumpah ruah. Awalnya, gw ngga terlalu menggubris tentang ketidaknyamanan ini. Bukan salah mereka karena gw udah memutuskan untuk following sampai akhirnya I can see anything about them. Tapi kok lama-lama heboh juga ya? Bukan berarti gw menyangkal kalau gw pernah ‘annoying’. Mungkin tanpa sadar gw pernah melakukan hal yang sama, seperti rasa lapar yang harusnya langsung cari asupan makanan, malah posting di twitter dulu. Tapi, maaaaan, makin lama makin keterlaluan ngga pentingnya.
Pertama, masalah perbedaan antara reply dan retweet. Ngga usah dijelasin panjang lebar lah, ya? Ini jelas udah mengganggu ketika hal yang seharusnya cukup orang-orang bersangkutan aja yang tau, tapi malah diumbar sana-sini melalui alternatif retweet sampai muncul ‘tmi.me’ blablabla. Padahal, kalau pakai reply bakal menghemat karakter. Correct me if Iām wrong. Dan, pastinya jadi lebih rapi karena ngga ada ‘tmi.me’ tadi. Jujur, jaman facebook masih berjaya dulu, tiap kali selesai post something on someone’s wall, otomatis ada recent updates nya di profil kita, kan? I immediately delete all. Bahkan, salah satu teman SMA gw ada yang berkomentar, “Sumpah, itu ngga penting banget!”
Iya, itu memang sama sekali ngga penting, I admit. Apa boleh buat? Setiap pribadi memiliki prioritas masing-masing. Apakah kalimat gw barusan berkesinambungan antara satu dengan yang lainnya? Terserah. Jadi, untuk masalah retweet me-retweet ini, I ignored. Gw masih bisa menahan diri untuk tidak me-non-aktifkan akun twitter gw. Lah kenapa jadi gw yang harus non aktif?!!
Kedua, masalah ‘everything happens on twitter’. Bangun tidur, posting twitter. Mau mandi, posting twitter. Kamar mandi dipakai anggota keluarga lain, posting twitter. Berangkat sekolah, posting twitter. Terjebak macet, posting twitter. Pulang sekolah, posting twitter. Makan malam, posting twitter. Makan malam pakai whiskas, mau diposting juga. Lagi-lagi, tidak menutup kemungkinan kalau gw juga pernah melakukan hal yang sama. Tapi, belakangan ini tata cara per-twitter-an gw udah mulai dirapikan. Karena sebelum melakukan protes terhadap orang lain, kita harus mengoreksi diri sendiri juga, bukan? I did. Gw juga masih bisa memaklumi tweet-tweet yang berkenaan dengan hal-hal yang disebutkan di atas. Ibaratnya, masih dalam batas kewajaran. Gw cuma agak khawatir suatu saat nanti ada yang ngetweet “Kebakaran!” dimana api sedang lucu-lucunya berkobar di depan mata si oknum. Untuk kedua kalinya, gw masih santai.
Twitter juga bisa jadi ajang perang, misalnya kalau tiap orang lagi sibuk menyanjung Football Club kesayangan mereka. Sebelum tanding, dipuja-puji. Pertandingan berlangsung, sukur-sukur kalau lagi berjaya, tambah disanjung deh FC masing-masing. Parahnya, kalau udah mulai saling menghina satu sama lain. Twitter jadi semacam sampah yang isinya kata-kata kurang berkenan. Okelah, sekali lagi, gw ngga terlalu peduli.
Gw mulai ngerasa tweet itu ‘annoying’ kalau isinya udah mulai bawa-bawa masalah keluarga. Terus kalau followers lo tau masalah keluarga lo, lantas mereka harus apa?! Mau sharing silakan, tapi gw pribadi sih ngga terlalu minat sama cara ini. It is good if you are an extrovert one, bisa jadi peluang dalam mengakrabkan diri dengan lingkungan sosial. Tapi ngga dengan cara mengumbar masalah keluarga juga, kan?
Belum lagi orang yang kesehariannya cuma ngetweet yang berbau menghibur diri, menyalahkan diri sendiri, atau menyesali segala hal yang terjadi. Ibaratnya, hidup mereka bisa dikatakan udah super duper apes. Everybody has its own problem. Tapi yaaaah, gimana mau move on kalau lo aja udah negative thinking mulu sama hidup lo. Tanpa menyebutkan contoh pun, mostly must be know what kind of this tweet. Gw pernah sekali un-following orang yang terasa ‘menyedihkan’ ini. Karena gw pikir udah terlalu mengganggu. Entah dia nyadar atau engga, I don’t care.
Belum lama ini gw juga un-following satu akun twitter lagi. Sekitar seminggu yang lalu, atau dua minggu lalu? Intinya, dia suka menyisipkan kata-kata kurang sopan dalam setiap tweetnya. Awalnya, dia suka maksa ngelawak, gw masih santai. Terus dia suka sok asik. Serius, ini benar-benar sok asik. Gw masih ngga peduli. Dia juga salah satu orang yang ngga bisa membedakan fungsi retweet dan reply. Padahal gw pernah baca salah satu tweetnya yang menyindir soal fungsi retweet dan reply ini. It’s okay, mungkin dia khilaf. Tapi, tweetnya belakangan ini mulai ngga sopan, kesannya ngga memperhatikan lingkungan sekitar. Jadi, daripada gw jijik sendiri, mending langsung un-follow. Dia pernah mempersilakan untuk un-follow, tapi mesti siap di un-follow balik, karena ada notifications-nya. Jadi, bukan salah gw dong? I already got the permission. Even if he read this and realize that I intentionally un-follow him on twitter, I don’t care. Tanpa mengurangi rasa hormat, no heart feeling. Masih mending gw ngga ngajak 500 orang buat report as spam akun twitternya. Ya, gw juga tau kali itu ngga mungkin. Pokoknya, kurang-kurangin lah ‘kekonyolan’ berlebihan di twitter kalau cuma bikin orang ngga nyaman.
Intinya sih gini aja ya, ngga berteman di twitter bukan berarti putus hubungan di dunia nyata, kan? Kalau kita mau unfollow seseorang, atau memutuskan buat ngga follow akun twitter teman, it doesn’t matter, right? Kayaknya conclusion ini pernah dibahas seseorang yang gw kenal. Hahaha. Gw mulai mengerti alasannya membahas ini. Ternyata begini rasanya. Jadi, teman-teman yang budiman, menurut guru PPKN saya dulu, marilah kita saling tepo seliro. Walaupun saya kurang paham arti kata tersebut, tapi kayaknya sih bagus buat dijadikan petuah berhubung diucapkan oleh guru PPKN yang baik budinya. Sekian, dan terima kasih.
My happiness right now can’t be shown or explained in any ways. There’s nothing I can do unless be grateful. Alhamdulillah ya Allah. :’)
From left to right : Bubble Boy (Jimmy Livingston) - Prince of Persia (Prince Dastan) - Source Code (Colter Stevens) - Donnie Darko (Donnie Darko) - Brokeback Mountain (Jack Twist)
Then, where are The Day After Tomorrow, Jarhead, Proof, and Zodiac? But at least, there’s no Love and Other Drugs, here.
:D